Tubuh memiliki cara tersendiri untuk menjaga kepadatan tulang. Jaringan tulang akan terus diperbaharui agar tulang akan selalu berfungsi dengan optimal untuk menjalankan tugasnya. Umumya, kepadatan tulang setiap orang mencapai puncaknya ketika berada di sekitar usia 20-an. Saat mulai memasuki usia sekitar 35 tahun, komposisi dan kekuatan tulang mulai melemah. Hal tersebut kemudian terus berlanjut seiring bertambahnya usia, yang membuat komposisi tulang mulai menipis secara perlahan.
Osteoporosis adalah masalah pengeroposan dan penurunan kepadatan massa tulang yang terjadi secara berkelanjutan. Osteoporosis sering dimulai secara diam-diam dan mungkin tidak diketahui sampai terjadinya patah tulang. Namun, ada beberapa tanda dan gejala yang biasanya muncul dan perlu diwaspadai sejak dini.
Gejala Osteoporosis
Gejala osteoporosis biasanya muncul dengan lambat. Pada tahap awal, penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala tertentu. Dalam beberapa kasus, orang yang kondisi tulangnya sudah keropos bahkan tidak mengetahui secara pasti kondisi mereka, sampai sudah benar-benar mengalami patah tulang. Beberapa gejala yang mungkin timbul antara lain:
- Tulang mudah patah/retak karena insiden yang cukup ringan, misalnya jatuh/terpeleset
- Tinggi badan menurun secara bertahap
- Postur tubuh bungkuk
- Nyeri leher/nyeri tulang punggung
- Gejala osteoporosis yang sudah tergolong parah bisa mengakibatkan tulang patah karena hal sepele misalnya karena bersin atau batuk yang kuat. Sebagian besar kasus patah tulang akibat osteoporosis terjadi di tulang belakang dan bisa sampai menyebabkan kecacatan.
Faktor Risiko Osteoporosis
- Jenis kelamin. Wanita lebih sering menderita osteoporosis daripada laki–laki.
- Usia. Semakin tua, semakin besar risiko terkena osteoporosis. Peningkatan risiko ini biasanya berlangsung sejak usia sekitar 30 tahun, terutama setelah seorang wanita mengalami menopause.
- Hormon
- Ukuran tubuh
- Riwayat keluarga. Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, seseorang memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami osteoporosis juga.
- Pernah mengalami patah tulang sebelumnya. Seseorang yang sebelumnya pernah mengalami patah tulang dalam tingkat ringan lebih berisiko untuk mengalami osteoporosis, terlebih jika patah tulang tersebut terjadi setelah berusia 50 tahun.
- Memiliki gangguan makan serta membatasi asupan makan dapat melemahkan kekuatan tulang, yang akhirnya menyebabkan osteoporosis.
- Penggunaan obat-obatan. Beberapa obat-obatan meningkatkan risiko osteoporosis, seperti obat kortikosteroid, antidepresan, agen kemoterapi, dan lain sebagainya.
- Malas beraktivitas. Kurang olahraga, sering bersantai sampai lupa waktu, atau berbaring terus dalam waktu lama bisa menyebabkan tulang menjadi keropos karena lemah dan kehilangan kekuatannya.
- Merokok dan terlalu banyak konsumsi alkohol.
Pencegahan Osteoporosis
Jika seseorang berisiko terkena osteoporosis, sebaiknya segera mungkin mengambil langkah untuk membantu menjaga kesehatan tulang. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
- Berolahraga teratur untuk menjaga tulang sekuat mungkin
- Makan makanan sehat: termasuk makanan yang kaya kalsium dan vitamin D
- Konsumsi suplemen harian yang mengandung 10 mikrogram vitamin D
- Melakukan perubahan gaya hidup: diantaranya dengan berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol (PK/PAY)
Referensi:
Mayo Clinic. Osteoporosis. 2019
MedlinePlus. Osteoporosis. 2019
NHS UK. Osteoporosis. Overview. 2019
WebMD. Osteoporosis. Guide. 2019